Tasikmalaya | Kabar-9.com — Di setiap kampung tua yang memiliki perjalanan sejarah panjang, selalu terdapat tempat-tempat yang menyimpan jejak kehidupan para tokoh yang pernah mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Di Kampung Bongas, Desa Sukakarsa, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, salah satu tempat yang memiliki makna tersebut adalah Gunung Jeruk.
Kawasan ini bukan hanya dikenal karena bentang alamnya, tetapi juga karena menjadi tempat peristirahatan terakhir Kyai Undang Kostaman, seorang ulama yang dikenang masyarakat sebagai guru, pendidik, dan pembimbing kehidupan keagamaan.
Bersama Kyai Entoh, beliau merupakan bagian dari generasi ulama yang memperkuat pendidikan Islam dan membangun kehidupan masyarakat setelah masa para pelopor Kampung Bongas, yakni H. Daud, H. Toha, dan H. Logayah.
Hingga kini, nama Kyai Undang Kostaman masih disebut dengan penuh penghormatan oleh masyarakat sebagai sosok yang mewariskan ilmu, akhlak, dan semangat pengabdian kepada generasi berikutnya.
Asal Usul Nama Gunung Jeruk
Menurut penuturan para sesepuh Kampung Bongas, nama Gunung Jeruk berasal dari banyaknya pohon jeruk yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut.
Pada masa lalu, wilayah ini dikenal sebagai daerah yang subur dengan berbagai jenis tanaman. Pohon jeruk menjadi salah satu tanaman yang cukup banyak dijumpai sehingga masyarakat menjadikan keberadaannya sebagai penanda alam.
Seiring berjalannya waktu, kawasan tersebut lebih dikenal dengan sebutan Gunung Jeruk, nama yang tetap bertahan hingga sekarang sebagai bagian dari identitas wilayah Kampung Bongas.
Hingga artikel ini diterbitkan, Redaksi Kabar-9.com belum menemukan dokumen tertulis yang secara khusus menjelaskan asal-usul nama Gunung Jeruk. Oleh karena itu, informasi tersebut disampaikan berdasarkan sejarah lisan yang masih hidup di tengah masyarakat.
Kyai Undang Kostaman
Seorang Guru yang Mengabdikan Hidupnya untuk Umat
Dalam sejarah lisan masyarakat Kampung Bongas, Kyai Undang Kostaman dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki peran besar dalam membimbing masyarakat melalui pendidikan agama.
Beliau hidup sezaman dengan Kyai Entoh, dan keduanya dikenal sebagai tokoh yang sama-sama memberikan kontribusi penting dalam perkembangan kehidupan Islam di Kampung Bongas dan wilayah sekitarnya.
Menurut penuturan para sesepuh, Kyai Entoh wafat lebih dahulu, kemudian beberapa waktu setelahnya disusul oleh wafatnya Kyai Undang Kostaman.
Urutan kronologi tersebut menjadi bagian penting dalam memahami perjalanan sejarah para tokoh agama di Kampung Bongas agar tidak terjadi kekeliruan dalam penyampaian sejarah kepada generasi mendatang.
Mendidik dengan Ilmu dan Keteladanan
Masyarakat mengenang Kyai Undang Kostaman sebagai sosok yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga memberikan teladan melalui sikap hidupnya.
Beliau dikenal sederhana, sabar, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat.
Melalui pengajian dan pembinaan keagamaan, beliau mengajarkan pentingnya keimanan, akhlak, kejujuran, serta kehidupan yang dilandasi rasa persaudaraan.
Bagi masyarakat pada masa itu, seorang guru bukan hanya mengajarkan ilmu di majelis, tetapi juga menjadi tempat meminta nasihat dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Peran inilah yang membuat nama Kyai Undang Kostaman tetap dikenang hingga sekarang.
Makam yang Menjadi Bagian dari Sejarah Kampung
Setelah wafat, Kyai Undang Kostaman dimakamkan di kawasan Gunung Jeruk, Kampung Bongas.
Keberadaan makam beliau menjadi salah satu bagian dari sejarah lokal yang masih dijaga oleh masyarakat.
Sebagian warga datang untuk mendoakan beliau sebagai bentuk penghormatan kepada seorang ulama yang telah berjasa membimbing masyarakat.
Dalam ajaran Islam, ziarah kubur merupakan amalan untuk mengingat kematian serta mendoakan orang-orang yang telah mendahului, bukan untuk memohon sesuatu kepada selain Allah SWT.
Karena itu, masyarakat memandang keberadaan makam Kyai Undang Kostaman sebagai pengingat atas jasa dan keteladanan beliau semasa hidup.
Gunung Jeruk Sebagai Warisan Sejarah
Bagi masyarakat Kampung Bongas, Gunung Jeruk bukan hanya lokasi pemakaman.
Kawasan ini menjadi simbol perjalanan dakwah Islam yang pernah tumbuh dan berkembang di wilayah tersebut.
Di tempat inilah masyarakat mengingat bahwa kemajuan sebuah kampung tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui pendidikan, pembentukan akhlak, dan keteladanan para ulama.
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang memperkuat kehidupan sosial masyarakat hingga sekarang.
Tradisi yang Tetap Hidup
Hingga saat ini, masyarakat masih menjaga tradisi menghormati jasa para pendahulu melalui doa bersama, silaturahmi, dan berbagai kegiatan keagamaan.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan antargenerasi sekaligus mengenalkan sejarah Kampung Bongas kepada anak-anak dan generasi muda.
Melalui cerita para sesepuh, nilai-nilai yang diwariskan Kyai Undang Kostaman tetap hidup meskipun zaman terus berubah.
Pentingnya Menjaga Sejarah Lokal
Perjalanan hidup Kyai Undang Kostaman merupakan bagian dari sejarah Kampung Bongas yang patut didokumentasikan.
Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi, banyak sejarah lokal yang berisiko hilang apabila tidak segera dicatat.
Melalui seri liputan ini, Kabar-9.com berupaya menghimpun sejarah lisan yang berkembang di masyarakat sebagai bentuk pelestarian warisan budaya dan sejarah lokal.
Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi masyarakat, akademisi, maupun generasi muda yang ingin mengenal sejarah kampungnya sendiri.
Warisan yang Lebih Berharga dari Sekadar Bangunan
Bangunan dapat lapuk dimakan usia.
Pepohonan dapat tumbang karena waktu.
Namun ilmu yang diajarkan seorang guru akan terus hidup selama masih diamalkan oleh murid-muridnya.
Itulah warisan terbesar yang ditinggalkan oleh Kyai Undang Kostaman.
Warisan berupa ilmu, akhlak, keteladanan, dan semangat mengabdi kepada masyarakat yang hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupan Kampung Bongas.
Gunung Jeruk bukan sekadar nama sebuah kawasan di Kampung Bongas.
Di tempat inilah masyarakat mengenang seorang guru yang mengabdikan hidupnya untuk membangun manusia melalui ilmu dan akhlak.
Kisah Kyai Undang Kostaman mengajarkan bahwa seorang ulama tidak dikenang karena kemewahan yang dimilikinya, melainkan karena ilmu yang diajarkan, akhlak yang dicontohkan, dan manfaat yang ditinggalkan bagi masyarakat.
Selama nilai-nilai tersebut terus diwariskan, nama Kyai Undang Kostaman akan tetap menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kampung Bongas.
Bersambung…
SERI LIPUTAN KHUSUS KABAR-9.COM
Bagian 6
H. Odon Dahlan: Jejak Pengabdian Seorang Tokoh Agama dalam Melanjutkan Warisan Dakwah di Kampung Bongas
Pada bagian berikutnya, Redaksi Kabar-9.com akan mengulas perjalanan hidup H. Odon Dahlan, salah satu tokoh agama yang dikenang masyarakat atas dedikasinya dalam pembinaan kehidupan keagamaan dan sosial. Liputan ini akan menelusuri kiprah beliau, nilai-nilai yang diwariskan, serta kontribusinya dalam menjaga keberlanjutan pendidikan Islam dan kehidupan bermasyarakat di Kampung Bongas.
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan hasil wawancara dengan para sesepuh, tokoh masyarakat, serta penelusuran sejarah lisan (oral history) di Kampung Bongas, Desa Sukakarsa. Informasi mengenai perjalanan hidup Kyai Undang Kostaman dan sejarah Gunung Jeruk merupakan bagian dari tradisi lisan yang masih dijaga oleh masyarakat. Hingga artikel ini diterbitkan, belum seluruh riwayat beliau didukung oleh dokumen tertulis yang lengkap. Oleh karena itu, Redaksi Kabar-9.com membuka ruang bagi keluarga, masyarakat, akademisi, maupun peneliti untuk memberikan klarifikasi, tambahan data, atau dokumen pendukung guna menyempurnakan dokumentasi sejarah Kampung Bongas secara akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.