2. Ketika Setetes Air Menjadi Awal Kehidupan Kampung Bongas

Ilustrasi

Tasikmalaya | Kabar-9.com — Di balik rindangnya pepohonan dan suasana tenang Kampung Bongas, Desa Sukakarsa, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, terdapat sebuah sumur tua yang hingga kini masih berdiri sebagai saksi perjalanan sejarah masyarakat.

Masyarakat mengenalnya sebagai Sumur Picung.

Bagi warga Kampung Bongas, sumur ini bukan sekadar tempat mengambil air. Sumur Picung adalah simbol perjuangan, gotong royong, dan kepedulian para pendahulu dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat pada masa ketika air bersih menjadi sesuatu yang sulit diperoleh.

Bacaan Lainnya

Puluhan tahun telah berlalu. Generasi berganti, pembangunan terus berjalan, namun nama Sumur Picung tetap hidup dalam ingatan masyarakat sebagai salah satu warisan berharga yang tidak boleh dilupakan.

Sebuah Nama yang Berasal dari Alam

Di balik nama Sumur Picung tersimpan kisah sederhana yang diwariskan secara turun-temurun oleh para sesepuh Kampung Bongas.

Menurut sejarah lisan masyarakat, di sekitar lokasi sumur dahulu tumbuh sebuah pohon picung (Pangium edule), yang di berbagai daerah di Indonesia juga dikenal sebagai keluwak atau kluwek.

Pohon tersebut tumbuh besar dan menjadi penanda alam yang mudah dikenali oleh masyarakat. Ketika warga hendak mengambil air, mereka menyebut lokasi itu sebagai “sumur di dekat pohon picung”.

Lama-kelamaan, penyebutan tersebut melekat dan akhirnya menjadi nama resmi yang dikenal hingga sekarang: Sumur Picung.

Meski pohon yang menjadi asal-usul nama itu kini telah tiada, kisahnya tetap hidup melalui cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Saat Air Menjadi Harapan

Pada masa ketika jaringan air bersih belum tersedia, masyarakat Kampung Bongas harus mengandalkan sumber-sumber air alami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Air digunakan untuk memasak, mandi, mencuci, mengairi tanaman, hingga mengambil air wudu sebelum melaksanakan ibadah.

Namun memperoleh air bukanlah perkara mudah.

Kondisi tersebut mendorong para sesepuh Kampung Bongas untuk mencari solusi bersama.

Perjuangan Menggali Sumur untuk Kepentingan Bersama

Berdasarkan penuturan para sesepuh, penggalian Sumur Picung dipelopori oleh tiga tokoh masyarakat yang dihormati, yakni H. Daud, H. Toha, dan H. Logayah.

Dengan peralatan sederhana dan semangat gotong royong, mereka bersama warga mulai menggali tanah di sekitar pohon picung dengan harapan menemukan sumber mata air yang dapat dimanfaatkan bersama.

Pekerjaan itu tidak dilakukan dalam waktu singkat.

Setiap ayunan cangkul dan setiap keranjang tanah yang diangkat menjadi bukti kegigihan masyarakat yang tidak menyerah menghadapi keterbatasan.

Hingga akhirnya, usaha tersebut membuahkan hasil.

Mata air muncul dari dasar galian dan menjadi sumber kehidupan baru bagi masyarakat Kampung Bongas.

Lebih dari Sekadar Sumur

Sejak saat itu, Sumur Picung menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Airnya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, sekaligus menjadi tempat warga berkumpul dan saling berinteraksi.

Menurut penuturan masyarakat, air dari Sumur Picung juga digunakan oleh para sesepuh dan santri untuk mengambil air wudu sebelum melaksanakan salat.

Karena itulah, Sumur Picung memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar sumber air.

Ia menjadi bagian dari kehidupan sosial, pendidikan agama, dan perjalanan spiritual masyarakat Kampung Bongas.

Warisan yang Dikenal hingga Luar Daerah

Seiring berjalannya waktu, nama Sumur Picung semakin dikenal, tidak hanya oleh masyarakat Kampung Bongas.

Menurut keterangan sejumlah warga, tidak sedikit masyarakat dari luar daerah yang datang untuk melihat langsung Sumur Picung. Sebagian di antaranya mengambil air dari sumur tersebut sebagai bagian dari tradisi atau keyakinan pribadi.

Redaksi Kabar-9.com menegaskan bahwa berbagai keyakinan mengenai manfaat air Sumur Picung merupakan bagian dari tradisi yang berkembang di masyarakat dan tidak dimaksudkan sebagai klaim yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Terlepas dari berbagai pandangan tersebut, keberadaan Sumur Picung tetap memiliki nilai sejarah yang penting sebagai warisan budaya Kampung Bongas.

Warisan yang Terus Dijaga

Memasuki usia yang semakin tua, kondisi fisik Sumur Picung mengalami berbagai perubahan akibat faktor usia dan lingkungan.

Sebagian bangunan memerlukan perbaikan agar tetap aman dan dapat dipertahankan sebagai bagian dari sejarah kampung.

Saat ini, Pengurus Madrasah Sumur Picung bersama masyarakat terus berupaya melakukan perawatan dan pemugaran secara bertahap sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Upaya tersebut merupakan bentuk kepedulian untuk menjaga peninggalan para sesepuh agar tetap dapat dikenal oleh generasi mendatang.

Bukan Sekadar Menjaga Sumur, Tetapi Menjaga Sejarah

Bagi masyarakat Kampung Bongas, menjaga Sumur Picung berarti menjaga ingatan tentang perjuangan para pendahulu.

Sumur ini mengajarkan bahwa persoalan besar dapat diselesaikan melalui kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong.

Nilai-nilai itulah yang menjadi warisan paling berharga dari H. Daud, H. Toha, H. Logayah, dan para sesepuh lainnya.

Karena sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat menghargai perjuangan yang membentuk identitasnya hingga hari ini.

Bersambung…

Bagian 3: Mengenang Para Sesepuh Kampung Bongas: Jejak Pengabdian Tokoh yang Membangun Kehidupan Masyarakat

Pada bagian berikutnya, Redaksi Kabar-9.com akan mengajak pembaca mengenal lebih dekat sosok-sosok yang menjadi pilar sejarah Kampung Bongas, serta nilai-nilai pengabdian yang mereka wariskan kepada masyarakat hingga kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *