Tasikmalaya | Kabar-9.com — Sejarah sebuah kampung tidak hanya dibentuk oleh peristiwa-peristiwa besar atau bangunan yang masih berdiri hingga kini. Lebih dari itu, sejarah lahir dari pengabdian orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat.
Di Kampung Bongas, Desa Sukakarsa, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, nama-nama para sesepuh masih terus dikenang dan disebut dengan penuh penghormatan. Mereka adalah sosok yang meletakkan dasar kehidupan bermasyarakat, memperkuat nilai-nilai keagamaan, membangun semangat gotong royong, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun sebagian besar perjalanan hidup mereka tidak tercatat dalam dokumen resmi, kisah pengabdian mereka tetap hidup melalui sejarah lisan (oral history) yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi masyarakat Kampung Bongas, nama-nama tersebut bukan sekadar bagian dari masa lalu, melainkan fondasi yang membentuk jati diri kampung hingga saat ini.
Pengabdian yang Menjadi Warisan
Pada masa lalu, para sesepuh tidak dikenal karena jabatan atau kedudukan formal. Mereka dihormati karena ilmu, akhlak, kebijaksanaan, serta kepedulian terhadap masyarakat.
Ketika warga menghadapi kesulitan, mereka hadir memberikan solusi. Ketika masyarakat membutuhkan bimbingan agama, mereka menjadi guru. Ketika kampung membutuhkan pembangunan, mereka menjadi pelopor yang menggerakkan kebersamaan.
Pengabdian itulah yang membuat nama mereka tetap dikenang meskipun zaman telah berubah.
H. Daud
Pelopor yang Mengutamakan Kepentingan Masyarakat
Dalam sejarah lisan Kampung Bongas, H. Daud dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki kepedulian besar terhadap kebutuhan masyarakat.
Beliau bersama H. Toha dan Hj. Logayah dipercaya sebagai pelopor penggalian Sumur Picung, sebuah sumber air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat pada masa ketika akses air bersih masih sangat terbatas.
Penggalian sumur tersebut bukan sekadar pekerjaan fisik, tetapi merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap kebutuhan bersama. Semangat yang ditunjukkan H. Daud menjadi teladan bahwa kepentingan masyarakat harus didahulukan di atas kepentingan pribadi.
H. Toha
Menggerakkan Gotong Royong Demi Kepentingan Bersama
Nama H. Toha selalu disebut berdampingan dengan H. Daud dan H. Logayah dalam kisah penggalian Sumur Picung.
Beliau dikenal sebagai sosok yang mampu mengajak masyarakat untuk bekerja bersama tanpa membedakan latar belakang.
Semangat gotong royong yang dibangun pada masa itu menjadi kekuatan utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan kampung.
Nilai tersebut masih menjadi bagian dari budaya masyarakat Kampung Bongas hingga sekarang.
Hj. Logayah
Menguatkan Persatuan Melalui Keteladanan
Tokoh berikutnya adalah H. Logayah, yang turut berperan dalam penggalian Sumur Picung bersama para pelopor lainnya.
Menurut penuturan masyarakat, beliau dikenal sebagai pribadi yang sederhana, mudah bergaul, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap kehidupan sosial masyarakat.
Keteladanan beliau dalam membangun kebersamaan menjadi salah satu warisan yang masih dikenang hingga kini.
Kyai Entoh
Penerus Dakwah dan Pendidikan Agama
Dalam perjalanan sejarah Kampung Bongas, Kyai Entoh menempati posisi penting sebagai tokoh agama yang hidup pada generasi setelah H. Daud, H. Toha, dan H. Logayah.
Beliau bukan pelopor penggalian Sumur Picung, melainkan penerus perjuangan para pendahulu dalam bidang dakwah dan pendidikan agama.
Menurut penuturan para sesepuh, Kyai Entoh banyak membimbing masyarakat melalui pengajian, pendidikan akhlak, dan pembinaan kehidupan keagamaan.
Beliau dikenal sebagai sosok yang sederhana, bijaksana, serta dekat dengan masyarakat.
Setelah wafat, beliau dimakamkan di Gunung Subawati, Kampung Sukakarsa, yang hingga kini masih menjadi salah satu lokasi yang dikenal masyarakat sebagai bagian dari sejarah keagamaan wilayah tersebut.
Kyai Undang Kostaman
Guru yang Menanamkan Ilmu dan Akhlak
Nama Kyai Undang Kostaman juga menjadi bagian penting dalam sejarah Kampung Bongas.
Beliau dikenal sebagai tokoh agama yang memiliki banyak murid dan berperan dalam menyebarkan ajaran Islam di Kampung Bongas dan wilayah sekitarnya.
Selain mengajarkan ilmu agama, beliau juga dikenal sebagai pribadi yang mengutamakan akhlak, kesederhanaan, dan keteladanan.
Makam beliau berada di kawasan Gunung Jeruk, Kampung Bongas.
Keberadaan makam tersebut menjadi salah satu pengingat atas jasa-jasa beliau dalam membangun kehidupan keagamaan masyarakat.
H. Odon Dahlan
Sahabat Seperjuangan dalam Dakwah
Dalam sejarah lisan masyarakat, H. Odon Dahlan dikenal sebagai sahabat dekat Kyai Entoh.
Keduanya banyak mengabdikan diri dalam kegiatan keagamaan, membimbing masyarakat, serta memberikan pendidikan kepada generasi muda.
Beliau dimakamkan di kawasan Gunung Subawati bersama Kyai Entoh.
Masyarakat mengenang beliau sebagai tokoh yang mengutamakan persaudaraan, keikhlasan, dan pengabdian tanpa pamrih.
Hj. Hasanah
Teladan dalam Kehidupan Sosial
Nama H. Hasanah juga termasuk dalam deretan sesepuh yang dihormati oleh masyarakat Kampung Bongas.
Menurut penuturan masyarakat, beliau dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Meskipun informasi tertulis mengenai perjalanan hidup beliau masih terbatas, masyarakat tetap mengenang jasa-jasanya sebagai bagian dari sejarah kampung.
Nilai kepedulian terhadap sesama menjadi warisan yang masih hidup hingga sekarang.
H. Hamid
Menjaga Kebersamaan di Tengah Masyarakat
Tokoh lainnya yang turut dikenang adalah H. Hamid.
Beliau dikenal sebagai pribadi yang memiliki kepedulian terhadap kehidupan masyarakat dan aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Semangat untuk menjaga persatuan, memperkuat hubungan kekeluargaan, serta membantu sesama menjadi nilai yang diwariskan kepada masyarakat Kampung Bongas.
Warisan yang Tidak Pernah Pudar
Para sesepuh Kampung Bongas memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda.
Ada yang dikenal karena kepeloporannya membangun fasilitas bagi masyarakat.
Ada pula yang dikenang sebagai pendidik, pembimbing agama, dan tokoh yang menjaga kehidupan sosial.
Namun seluruhnya meninggalkan warisan yang sama, yaitu nilai-nilai kehidupan yang hingga kini masih menjadi pedoman masyarakat.
Nilai gotong royong.
Nilai keikhlasan.
Nilai kepedulian.
Nilai pendidikan.
Nilai penghormatan terhadap ilmu dan akhlak.
Warisan inilah yang sesungguhnya menjadi kekayaan terbesar Kampung Bongas.
Menghormati Para Sesepuh dengan Melanjutkan Perjuangan Mereka
Bagi masyarakat Kampung Bongas, mengenang para sesepuh tidak cukup hanya dengan mengetahui nama atau lokasi makam mereka.
Penghormatan yang sesungguhnya diwujudkan melalui upaya meneruskan nilai-nilai yang telah mereka tanamkan.
Menjaga persatuan, menghidupkan semangat gotong royong, memperkuat pendidikan agama, serta merawat warisan sejarah merupakan bentuk penghormatan yang paling bermakna terhadap jasa para pendahulu.
Dengan demikian, perjuangan mereka tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi terus hidup dalam tindakan nyata generasi penerus.
Bersambung…
SERI LIPUTAN KHUSUS KABAR-9.COM
Bagian 4
Gunung Jeruk: Jejak Dakwah, Sejarah, dan Warisan Spiritual di Kampung Bongas
Pada bagian berikutnya, Redaksi Kabar-9.com akan mengajak pembaca menelusuri sejarah Gunung Jeruk, mulai dari asal-usul namanya, keberadaan makam Kyai Undang Kostaman, hingga nilai sejarah dan spiritual yang masih dijaga oleh masyarakat Kampung Bongas.
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan hasil wawancara, penuturan para sesepuh, tokoh masyarakat, serta observasi lapangan yang dilakukan Redaksi Kabar-9.com. Informasi mengenai perjalanan hidup dan pengabdian para tokoh merupakan bagian dari sejarah lisan (oral history) yang masih hidup di tengah masyarakat Kampung Bongas. Hingga saat ini, belum seluruh riwayat para sesepuh didukung oleh dokumen tertulis yang lengkap. Oleh karena itu, Redaksi membuka ruang bagi keluarga para tokoh, masyarakat, akademisi, maupun peneliti untuk memberikan klarifikasi, tambahan informasi, atau dokumen pendukung guna menyempurnakan dokumentasi sejarah Kampung Bongas secara akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.