Tasikmalaya | Kabar-9.com — Di balik rindangnya pepohonan dan suasana tenang Kampung Bongas, Desa Sukakarsa, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, berdiri sebuah sumur tua yang hingga kini masih menyimpan jejak perjalanan sejarah masyarakat. Sumur itu dikenal dengan nama Sumur Picung, sebuah peninggalan berharga yang dahulu menjadi sumber kehidupan warga sekaligus saksi lahirnya nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan pengabdian para sesepuh.
Puluhan tahun telah berlalu sejak sumur ini pertama kali digali oleh H. Daud, H. Toha, dan H. Logayah. Namun waktu tidak dapat menghapus arti penting Sumur Picung bagi masyarakat Kampung Bongas. Justru sebaliknya, semakin bertambah usia, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga warisan sejarah tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.
Hari ini, Sumur Picung tidak lagi sekadar dikenal sebagai sumber air. Ia telah menjadi simbol perjalanan sejarah Kampung Bongas yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dari Sumber Air Menjadi Simbol Peradaban
Pada masa lalu, Sumur Picung menjadi tumpuan utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air bersih.
Airnya digunakan untuk memasak, mencuci, mandi, hingga mengambil air untuk berwudu sebelum melaksanakan salat.
Menurut penuturan para sesepuh, para tokoh agama Kampung Bongas juga memanfaatkan air dari Sumur Picung sebagai bagian dari aktivitas ibadah dan pembinaan masyarakat.
Tidak sedikit kenangan yang lahir di sekitar sumur ini.
Dari tempat inilah warga saling bertemu, bergotong royong, bertukar cerita, dan mempererat tali persaudaraan.
Karena itulah, Sumur Picung bukan hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga nilai sosial dan spiritual yang masih melekat hingga sekarang.
Sempat Terbengkalai Dimakan Waktu
Seiring perkembangan zaman dan hadirnya berbagai sumber air baru, fungsi Sumur Picung perlahan mulai berkurang.
Usia bangunan yang terus bertambah, ditambah minimnya perawatan dalam beberapa periode, membuat kondisi sumur mengalami penurunan.
Beberapa bagian bangunan terlihat mulai rusak akibat pengaruh cuaca dan usia.
Meski demikian, masyarakat tidak pernah melupakan keberadaan Sumur Picung.
Bagi mereka, sumur ini tetap menjadi bagian penting dari identitas Kampung Bongas yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Perbaikan Dilakukan oleh Pengurus Madrasah dan Masyarakat
Melihat kondisi tersebut, pengurus Madrasah Roudlotus Shibyan bersama masyarakat berinisiatif melakukan perbaikan secara bertahap.
Upaya ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap peninggalan para sesepuh yang telah berjasa membangun kehidupan masyarakat Kampung Bongas.
Perbaikan difokuskan pada upaya menjaga keberadaan Sumur Picung agar tetap aman, bersih, dan layak sebagai salah satu situs sejarah lokal.
Semangat gotong royong kembali terlihat sebagaimana ketika sumur ini pertama kali digali puluhan tahun silam.
Hal ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan para pendahulu masih hidup di tengah masyarakat.
Air yang Masih Dicari Banyak Orang
Menariknya, meskipun telah berusia puluhan tahun, Sumur Picung masih menjadi perhatian banyak orang.
Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, tidak sedikit warga dari luar daerah yang datang hanya untuk mengambil air dari Sumur Picung.
Sebagian meyakini air tersebut memiliki kesegaran yang khas dan telah lama menjadi bagian dari sejarah kehidupan masyarakat Kampung Bongas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Sumur Picung masih memiliki daya tarik tersendiri di mata masyarakat.
Namun demikian, Redaksi Kabar-9.com belum memperoleh kajian ilmiah mengenai karakteristik atau manfaat khusus air Sumur Picung. Oleh karena itu, informasi mengenai alasan masyarakat mengambil air dari sumur ini disampaikan sebagai bagian dari penuturan warga dan tidak dimaksudkan sebagai klaim ilmiah mengenai khasiat air tersebut.
Warisan Sejarah yang Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Menjaga Sumur Picung bukan hanya tugas pengurus madrasah atau masyarakat sekitar.
Warisan sejarah merupakan tanggung jawab bersama.
Apabila situs-situs bersejarah tidak dirawat sejak sekarang, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mengenalnya melalui cerita.
Padahal, keberadaan Sumur Picung merupakan bukti nyata perjalanan Kampung Bongas dari masa ke masa.
Di tempat inilah sejarah gotong royong, perjuangan para sesepuh, dan berkembangnya pendidikan Islam saling bertemu dalam satu kawasan yang memiliki makna mendalam.
Menghidupkan Harapan Melalui Gotong Royong
Perbaikan Sumur Picung tentu membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya yang tidak sedikit.
Karena itu, masyarakat berharap semangat gotong royong yang dahulu menjadi dasar pembangunan sumur ini dapat kembali tumbuh.
Bentuk dukungan tidak harus selalu berupa materi.
Tenaga, doa, gagasan, maupun kepedulian untuk ikut menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan Sumur Picung juga merupakan bagian penting dari upaya pelestarian sejarah.
Semangat kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama masyarakat Kampung Bongas sejak dahulu hingga sekarang.
Membuka Ruang Bagi Para Dermawan
Sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan sejarah, pengurus Madrasah Roudlotus Shibyan juga membuka ruang bagi para dermawan yang ingin berpartisipasi dalam mendukung proses perbaikan Sumur Picung.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat proses pelestarian sehingga situs bersejarah ini tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Bagi siapa pun yang ingin berkontribusi, bantuan yang diberikan diharapkan disalurkan secara terbuka, tertib, dan dikelola dengan prinsip transparansi serta akuntabilitas oleh pihak yang bertanggung jawab.
Harapan masyarakat sederhana, yakni agar warisan yang telah dijaga selama puluhan tahun ini tetap lestari dan tidak hilang oleh perubahan zaman.
Merawat Sejarah adalah Menghormati Para Pendahulu
Setiap batu yang tersusun di Sumur Picung mengingatkan masyarakat pada perjuangan para sesepuh.
Setiap tetes air yang masih mengalir menjadi simbol bahwa pengabdian mereka belum pernah berhenti menghidupi Kampung Bongas.
Merawat Sumur Picung bukan sekadar memperbaiki bangunan tua.
Lebih dari itu, merawat Sumur Picung berarti menghormati perjuangan orang-orang yang telah mendahului, menjaga identitas kampung, serta memastikan bahwa sejarah tetap hidup di tengah masyarakat.
Sumur Picung telah melewati berbagai zaman.
Ia menjadi saksi ketika masyarakat berjuang mencari air, ketika para ulama mengambil air untuk berwudu, ketika anak-anak mulai belajar agama di sekitarnya, hingga ketika kawasan itu berkembang menjadi pusat pendidikan Islam.
Kini, Sumur Picung kembali memasuki babak baru.
Melalui semangat gotong royong, kepedulian masyarakat, dan dukungan berbagai pihak, warisan sejarah ini diharapkan dapat terus berdiri kokoh sebagai pengingat bahwa sebuah kampung besar tidak dibangun hanya oleh bangunan, tetapi oleh nilai-nilai pengabdian yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena menjaga Sumur Picung berarti menjaga salah satu halaman penting dalam sejarah Kampung Bongas.
Bersambung…
SERI LIPUTAN KHUSUS KABAR-9.COM
Bagian 10
Warisan Kampung Bongas untuk Generasi Mendatang: Menjaga Sejarah, Merawat Nilai, Membangun Masa Depan
Pada bagian penutup seri liputan ini, Kabar-9.com akan merangkum seluruh perjalanan sejarah Kampung Bongas, mulai dari asal-usul nama kampung, Sumur Picung, perjuangan para sesepuh, jejak para ulama, lahirnya pusat pendidikan Islam, hingga pentingnya menjaga warisan sejarah sebagai bekal bagi generasi mendatang. Liputan penutup ini menjadi ajakan bersama agar sejarah lokal tidak hanya dikenang, tetapi juga dipelajari, dilestarikan, dan diwariskan sebagai bagian dari identitas masyarakat Kampung Bongas.
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan hasil observasi lapangan, wawancara dengan para sesepuh, tokoh masyarakat, pengurus Madrasah Roudlotus Shibyan, serta penelusuran sejarah lisan (oral history) di Kampung Bongas. Informasi mengenai sejarah Sumur Picung, proses perbaikan, dan kebiasaan masyarakat yang datang mengambil air merupakan hasil penghimpunan keterangan dari narasumber setempat. Redaksi Kabar-9.com membuka ruang bagi masyarakat, keluarga para sesepuh, akademisi, dan peneliti untuk memberikan klarifikasi, tambahan data, atau dokumen pendukung guna memperkaya dan menyempurnakan dokumentasi sejarah Kampung Bongas secara akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.