KABAR-9.COM, JAKARTA — Beredarnya foto sampul dan daftar isi buku “Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam” mendadak viral di media sosial.
Buku yang membedah nilai keislaman dan gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto ini memicu perdebatan riuh. Sorotan publik tertuju pada pemilihan judul, substansi isi, hingga etika penerbitannya.
Detail Buku & Inisiator
- Data Ringkas Buku
-
Judul: Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam
-
Halaman: xxii + 346 Halaman
-
Penerbit: Atmosphere Publishing House
-
Tim Penyusun: Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, & Mush’ab Muqoddas
Proyek penulisan ini diinisiasi oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani. Buku ini juga sempat diluncurkan secara simbolis bersama Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan Ketua Baznas Prof. Dr. Noor Achmad.
Kontroversi: Protes Dugaan Pencatutan Nama Tokoh
Gelombang kritik paling tajam mencuat setelah sejumlah ulama dan tokoh nasional yang namanya tertera di daftar isi menyampaikan protes terbuka. Mereka mengaku tidak pernah dihubungi, dimintai izin, atau menyerahkan naskah untuk buku tersebut.
-
TGB Muhammad Zainul Majdi
Namanya dicantumkan pada bab Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan. Melalui akun resminya, mantan Gubernur NTB ini menegaskan tak pernah menulis atau menyerahkan draf tulisan untuk buku ini.
-
Keluarga Gus Kautsar (Ploso, Kediri)
Nama KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar tertera di bab Dukungan Pesantren untuk Presiden Prabowo Subianto (hal. 318). Ning Jazil, istri Gus Kautsar, menyampaikan keberatan terbuka atas dicantumkannya nama sang suami tanpa izin resmi.
Dugaan klaim sepihak ini memicu kritik warganet yang menilai penerbit melanggar etika editorial.
Sorotan Warganet & Figur Publik
Selain isu izin naskah, frasa “Islam Ala Prabowo” pada judul utama juga memanen respons skeptis. Sebagian masyarakat khawatir istilah ini disalahartikan seolah-olah membentuk ajaran atau mazhab baru.
Pendakwah Hilmi Firdausi (Gus Hilmi) turut menyentil narasi keislaman tersebut. Ia mempertanyakan rekam jejak ibadah dasar sang presiden dan meminta pembuktian konkret—seperti dokumen melantunkan Al-Qur’an—ketimbang sekadar narasi klaim di dalam buku.
Sisi Klarifikasi: Maksud Isi & Kontributor Sah
Di sisi lain, sejumlah pihak dan kontributor resmi memberikan klarifikasi terkait maksud penerbitan buku ini:
-
Bukan Aliran Baru
Tim penyusun menegaskan istilah ini bukan merujuk pada mazhab agama baru. Subjudul buku memperjelas bahwa isinya merupakan kajian akademis atas penerapan nilai universal Islam (seperti keadilan dan diplomasi) dalam gaya kepemimpinan Prabowo.
-
Konfirmasi Kontributor Resmi
Mantan Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, membenarkan dirinya dihubungi sejak awal untuk menyumbang naskah diplomasi kebangsaan.
-
Dukungan Ulama Lain
Pengasuh Pesantren Amanatul Ummah, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, mengonfirmasi dirinya menulis epilog yang mengaitkan gaya kepemimpinan Prabowo dengan iktibar Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Menanti Jawaban Penerbit
Hingga saat ini, publik dan kalangan pesantren masih menunggu klarifikasi resmi dari tim penyusun maupun pihak Atmosphere Publishing House.
Penjelasan resmi dinilai sangat penting untuk meluruskan prosedur editorial serta menyelesaikannya demi integritas literatur kebangsaan.
(*)