Boyolali, kabal-9.com – Pramono, seorang pengepul susu sapi perah asal Desa Singosari, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, yang baru-baru ini menjadi viral, mencuri perhatian banyak kalangan. Pramono, yang selama ini dikenal sebagai sosok sederhana dan pekerja keras, harus menutup usahanya setelah merasa tidak mampu lagi menanggung beban pajak negara yang mencapai Rp 670 juta. Keputusan Pramono ini membuat banyak orang terkejut, mengingat dalam dunia usaha, nilai pajak yang besar tersebut seharusnya mencerminkan kesuksesan luar biasa.
Namun, kenyataannya sangat berbeda. Bagi mereka yang mengenal Pramono, sosoknya tak pernah menunjukkan tanda-tanda kehidupan mewah. Pramono, seorang pria 67 tahun, sudah puluhan tahun berjuang dalam usaha pengumpulan susu sapi perah dari para peternak di Boyolali, namun hidupnya tetap sederhana. Bahkan, saat melakukan transaksi yang dapat mencapai ratusan juta rupiah dalam sehari, ia tetap menggunakan sandal jepit. Pramono dikenal sebagai orang yang lebih memilih untuk menjaga gaya hidup yang jauh dari hiruk-pikuk kemewahan.
Para tetangga dan rekan-rekan bisnis Pramono sering menyebutnya sebagai sosok yang sudah “selesai” dengan urusan duniawi. Dalam pandangan mereka, Pramono adalah orang yang tidak terobsesi dengan kekayaan atau kemewahan. Ia lebih mementingkan kehidupan yang sederhana dan bersahaja. Sehari-harinya, ia menjalani rutinitas dengan kesederhanaan yang menonjol. Meski menjalankan bisnis besar yang melibatkan banyak peternak susu, Pramono lebih memilih untuk tetap berpakaian sederhana, bahkan sering terlihat mengenakan sandal jepit di setiap kesempatan, termasuk saat bertemu pejabat atau tamu penting.
Rumah Pramono pun jauh dari kesan mewah. Meski rumahnya sering dikunjungi oleh pejabat daerah, rekan bisnis, dan para peternak yang bekerja sama dengannya, rumah yang ia huni adalah rumah desa peninggalan orang tuanya. Sebagian lantai rumahnya masih berupa tanah, sementara sebagian dindingnya terbuat dari gedhek (bambu) dan sebagian lagi belum dilapisi semen. Tak ada perabotan mewah yang dipajang di rumahnya. Baginya, kenyamanan hidup tidak datang dari barang-barang mewah, melainkan dari ketenangan dan kebahagiaan yang didapat dari kehidupan yang sederhana.
Bahkan, Pramono memilih untuk menggunakan mobil bekas yang sederhana, Isuzu Panther, yang diperoleh dari seseorang yang berutang padanya dan tidak mampu membayar dengan uang tunai. Mobil tersebut, menurut Pramono, bukanlah simbol kekayaan, melainkan alat untuk menunjang pekerjaannya yang melibatkan banyak orang.
Pramono mengungkapkan bahwa ia tidak menganggap dirinya kaya, meskipun dalam kesehariannya, ia bertransaksi dengan uang dalam jumlah besar. Sebagian besar keuntungan yang diperoleh dari usahanya, menurut Pramono, bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk membantu para peternak susu di Boyolali. “Kagem nopo (Buat apa hidup mewah-mewahan). La wong semua (hasil kekayaan) ini milik peternak semua,” ujarnya dengan rendah hati.
Pramono memang memiliki beberapa truk dan mesin pendingin (cooler) untuk mengangkut susu dari peternak ke tempat pengolahan. Meskipun harganya tidak murah, ia menegaskan bahwa barang-barang tersebut bukan miliknya secara pribadi. “Itu semua punya para peternak susu di Boyolali. Tanpa peralatan ini, perputaran uang para peternak akan terhenti,” tambahnya. Ia menilai peran peralatan tersebut sangat penting dalam menjaga kelancaran usaha peternakan susu di wilayah Boyolali.
Namun, meski ia begitu tulus dalam menjalankan usaha untuk para peternak, Pramono kini terpaksa mengambil keputusan berat untuk menutup usaha pengepul susunya. Semua berawal dari masalah pajak yang tidak kunjung selesai. Pada tahun 2018, Pramono menerima tagihan pajak yang sangat besar, sebesar Rp 670 juta. Pramono mengaku sudah membayar pajak tersebut, tetapi tiba-tiba dia menerima tagihan lagi, yang menurutnya sangat membingungkan dan tidak ada kejelasan.
Ketidakpastian mengenai jumlah pajak yang harus dibayarnya membuatnya merasa lelah dan frustrasi. Ia merasa tidak mendapatkan kepastian dari pihak berwenang, meskipun usaha yang dijalaninya sudah membantu banyak peternak susu di Boyolali. Dalam keadaan tersebut, Pramono merasa tak sanggup lagi menanggung beban pajak yang semakin besar. Akhirnya, ia memutuskan untuk menutup usaha yang selama ini telah menjadi tulang punggung ekonomi banyak keluarga peternak di Boyolali.
Keputusan Pramono untuk menutup usaha membuat banyak peternak sapi perah di Boyolali cemas dan khawatir. Bagi mereka, Pramono adalah sosok yang sangat membantu, karena ia menjadi penghubung yang memperlancar proses pemasaran susu mereka. Tanpa Pramono, mereka khawatir kesulitan untuk menjual susu mereka, dan perputaran uang di sektor ini bisa terhenti.
Kisah Pramono menjadi viral dan menarik perhatian banyak pihak, terutama para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Banyak yang mempertanyakan keadilan dalam sistem perpajakan yang dirasa memberatkan para pengusaha kecil seperti Pramono. Pramono, yang selama ini tidak pernah mengutamakan kemewahan, justru harus menghadapi masalah yang sangat besar yang mengancam kelangsungan usahanya.
Kisah ini juga menjadi cerminan dari tantangan yang dihadapi oleh pengusaha kecil di Indonesia, yang sering kali harus berjuang dengan ketidakpastian terkait pajak dan peraturan yang rumit. Semoga kisah Pramono bisa menjadi refleksi bagi pihak berwenang untuk lebih mendengarkan suara pengusaha kecil dan memberikan solusi yang lebih adil dalam sistem perpajakan di Indonesia.
(Red)