Tasikmalaya, kabar-9.com – Sebuah unggahan foto viral di media sosial Facebook oleh akun bernama Dalung Keyboardiz menarik perhatian warganet. Dalam unggahan tersebut, tampak tiga orang perempuan berdiri di pinggir jalan rusak sambil memegang poster berisi pesan sindiran keras kepada aparat desa.(Selasa, 4 Juni 2025)
Poster yang mereka bentangkan bertuliskan:
“TURUNKAN TIKUS-TIKUS DESA
Bila aparat tidak bekerja, rakyat maha rakyat aman berdontak
Menolak jalan buyatak”
Unggahan tersebut disertai keterangan dalam bahasa Sunda bernada geram:
“Anu nju virall memang kudu bertindak warga téh. Jalan buyatak wae mah. #fyp”
Istilah “jalan buyatak” merujuk pada kondisi jalan yang rusak, becek, dan penuh batu kerikil. Sindiran “tikus-tikus desa” ditafsirkan sebagai bentuk kekecewaan terhadap dugaan penyalahgunaan anggaran atau kelambanan aparat dalam memperbaiki infrastruktur dasar di desa mereka.
Unggahan ini telah mendapatkan lebih dari 4.200 suka, 754 komentar, dan 328 kali dibagikan, menandakan besarnya perhatian masyarakat terhadap persoalan tersebut.
Respon Warga dan Pemerintah
Warganet dalam kolom komentar ramai-ramai mendukung aksi simbolik tersebut. Banyak yang mengungkapkan bahwa kondisi serupa juga terjadi di desa-desa lain, di mana perbaikan jalan menjadi isu bertahun-tahun yang tak kunjung selesai.
Beberapa tokoh masyarakat setempat, yang dimintai tanggapan, menyatakan keprihatinannya. Mereka berharap agar pemerintah desa segera turun tangan dan transparan dalam pengelolaan Dana Desa.
“Ini bukan hanya soal jalan rusak. Ini soal ketidakpercayaan publik yang mulai tumbuh akibat lambannya respon dari pemerintah,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak pemerintah desa maupun kecamatan terkait unggahan tersebut.
Fenomena Digital sebagai Bentuk Protes Baru
Viralnya unggahan ini menunjukkan bagaimana warga kini semakin aktif menggunakan media sosial sebagai sarana menyuarakan aspirasi dan kritik sosial. Aksi tiga perempuan muda ini dinilai sebagai bentuk kreatif dan damai dalam menyalurkan kegelisahan kolektif masyarakat terhadap kondisi infrastruktur yang tak kunjung diperbaiki.
Editor: Harun Alby
Foto: Tangkapan layar dari Facebook
Sumber: Facebook/Dalung Keyboardiz