Guru Malaysia Ngamuk Gara-Gara Bahasa Indonesia di Tugas Murid

Tugas Bahasa Melayu, Isinya Bahasa Indonesia? Guru Ini Naik Darah

Jakarta, kabar-9.com — Sebuah video memperlihatkan seorang guru perempuan di Malaysia tengah memarahi murid-muridnya karena menggunakan kosakata Bahasa Indonesia dalam tugas Bahasa Melayu, menjadi viral di media sosial. Fenomena ini memicu perdebatan hangat lintas negara di dunia maya.

Video berdurasi kurang dari dua menit yang diunggah oleh akun TikTok @kabar451_ itu menunjukkan ekspresi kekesalan sang guru saat memeriksa hasil karangan murid-muridnya.

“Perkataan yang cikgu jumpa, ‘berencana’, ‘merencanakan’, ‘rumah sakit’, ‘teman’. Memanglah dalam bahasa Melayu ada kata teman, tapi penggunaan yang lebih sesuai adalah kawan,” ujar sang guru tegas dalam video yang dikutip Senin, 7 Juli 2025.

Bacaan Lainnya

“Inilah kata‑kata yang Ibu temukan: ‘berencana’, ‘merencanakan’, ‘rumah sakit’, ‘teman’. Memang dalam bahasa Melayu ada kata ‘teman’, tetapi yang lebih tepat seharusnya ‘kawan’.

Ia menyebutkan bahwa banyak murid kini terpengaruh oleh penggunaan Bahasa Indonesia, terutama melalui konsumsi konten digital dan media sosial dari negeri tetangga. Ia pun menegaskan bahwa tugas yang diberikan adalah karangan dalam Bahasa Melayu, bukan dalam varian bahasa Indonesia.

“Guna Bahasa Indonesia banyak yang cikgu jumpa dalam karangan awak ni. Ini bukan tugas Bahasa Indonesia, ini Bahasa Melayu,” lanjutnya.

“Ibu menemukan banyak sekali penggunaan Bahasa Indonesia di karangan kalian. Ini bukan tugas Bahasa Indonesia, tetapi Bahasa Melayu.”

Unggahan tersebut langsung menyedot perhatian warganet dari dua negara serumpun. pengguna dari Indonesia membalas dengan nada santai dan bercanda.

“Janganlah marah, cikgu. Anak kami juga nonton Upin Ipin, tapi belum ada yang manggil ayam goreng ‘ayam rempah’,” tulis salah satu pengguna asal Indonesia.

Sementara itu, sejumlah netizen dari Malaysia juga menyampaikan kekhawatiran atas mulai luntur dan tercampurnya penggunaan Bahasa Melayu yang baku di kalangan pelajar, akibat derasnya konten berbahasa Indonesia yang dikonsumsi sehari-hari.

Fenomena ini menambah daftar panjang diskusi tentang pengaruh budaya pop lintas negara di Asia Tenggara. Beberapa kalangan menilai ini sebagai tantangan dalam menjaga kemurnian bahasa nasional, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk alami pertukaran budaya antar bangsa yang punya akar bahasa yang sama.

Sebagai sesama negara anggota ASEAN, Indonesia dan Malaysia memang kerap mengalami pergesekan kecil terkait bahasa dan budaya, namun kedekatan historis dan linguistik justru menjadikan perbedaan itu unik dan layak untuk dipahami, bukan dipertentangkan.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *