Jurnalis Media Kabar Sembilan Alami Iinsiden Tak Menyenangkan Saat Melipu Di Desa Sukakarsa Keamanan Acara Publik Dipertanyakan

Jurnalis Kabar Sembilan Jadi Korban Perusakan Motor Saat Tugas Peliputan di Desa Sukakarsa

Tasikmalaya, kabar-9.com – Kamis malam (14/8/2025), suasana lomba paduan suara di Desa Sukakarsa, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, semestinya menjadi ajang kebersamaan warga. Namun, momen itu berubah menjadi pengalaman pahit bagi seorang jurnalis Media Kabar Sembilan yang tengah melaksanakan tugas peliputan.

Insiden bermula ketika jurnalis tiba di lokasi acara dan diarahkan panitia untuk memarkirkan sepeda motornya di area parkir resmi. Sayangnya, lokasi parkir tersebut minim penerangan, sehingga rawan tindak kejahatan. Meskipun terdapat petugas parkir, pengawasan kendaraan terlihat lemah.

Peliputan berlangsung hingga acara usai sekitar pukul 22.15 WIB. Saat kembali, jurnalis membayar retribusi parkir Rp 2.000 dan tidak sempat memeriksa kondisi motornya karena gelapnya lokasi.

Bacaan Lainnya

Keesokan harinya, saat motor hendak digunakan, barulah terlihat kerusakan pada jok — sobek dengan bekas yang diduga akibat perbuatan sengaja. Kejadian ini memunculkan tanda tanya besar: bagaimana perusakan kendaraan bisa terjadi di lokasi resmi parkir yang seharusnya diawasi?

Pimpinan Umum Media Kabar Sembilan, Harun, mengecam insiden tersebut.

“Ini bukan soal harga kulit jok, tapi tentang jaminan keamanan dan rasa hormat kepada jurnalis yang bekerja. Kejadian ini menunjukkan lemahnya pengawasan. Kami mendesak panitia dan aparat desa untuk memperketat keamanan agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

Kejadian ini bukan hanya merugikan korban secara materiil, tetapi juga menjadi alarm bagi penyelenggara acara publik di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya. Keamanan parkir bukan sekadar fasilitas pelengkap, melainkan bagian dari tanggung jawab penyelenggara terhadap keselamatan pengunjung.

Harapan ke depan, pihak terkait diharapkan:

  1. Memastikan area parkir memiliki penerangan memadai.

  2. Meningkatkan jumlah dan kualitas petugas keamanan.

  3. Memasang kamera pengawas (CCTV) untuk memantau area rawan.

  4. Menyusun prosedur tanggap insiden agar korban dapat segera mendapat penanganan dan pelaku bisa ditindak.

Insiden ini menjadi catatan serius: kenyamanan dan keamanan pengunjung harus menjadi prioritas utama setiap penyelenggaraan acara publik. Tanpa itu, kepercayaan masyarakat akan hilang, dan nama baik penyelenggara pun ikut tercoreng.

(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *