Tasikmalaya, kabar-9.com – Menggelar sebuah acara kerap dihadapkan pada persoalan dana. Jumlah sumbangan yang tidak menentu sering kali membuat panitia harus memutar otak. Untuk menyiasati hal tersebut, kini banyak panitia mulai menerapkan metode anggaran fleksibel, sebuah sistem pengeluaran yang bisa menyesuaikan kondisi: dikecilkan bila dana terbatas, dan dibesarkan bila dana melimpah.
Berbeda dengan anggaran tetap yang jumlahnya sudah dikunci sejak awal, anggaran fleksibel memberikan ruang gerak lebih luas. Jika dana hanya sedikit, pengeluaran diarahkan pada kebutuhan pokok seperti konsumsi sederhana, sound system, dan honor penceramah. Namun bila dana yang terkumpul lebih besar, panitia dapat menambahkan fasilitas lain, seperti makanan lebih variatif, dekorasi, hingga hiburan tambahan.
“Metode ini membuat acara tetap bisa berjalan dalam segala kondisi. Kalau dananya kecil ya acaranya sederhana, kalau besar bisa lebih meriah. Yang penting, tidak ada kegiatan yang gagal hanya karena kekurangan biaya,” ungkap H. Dadan, salah seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Sukarame, Tasikmalaya, Minggu (18/8).
Penerapan anggaran fleksibel dinilai paling cocok untuk acara keagamaan, sosial, maupun kemasyarakatan. Pasalnya, jumlah donatur maupun partisipasi jamaah sering kali baru jelas menjelang hari pelaksanaan.
Dengan sistem ini, panitia bisa tetap menggelar acara tanpa rasa khawatir. Jamaah pun tidak terbebani karena acara akan menyesuaikan kemampuan.
“Prinsipnya adalah gotong royong dan kebersamaan. Besar kecilnya acara bukan ukuran, yang penting maknanya tersampaikan,” ujar Ustadz Rohimat, salah satu penceramah yang kerap diundang pada kegiatan masyarakat.
Hal senada diungkapkan Alung, warga salah satu kampung di Sukarame. Ia menilai metode anggaran fleksibel membuat acara terasa lebih ringan dan tidak membebani warga.
“Menurut saya bagus, kalau ada dana lebih ya kita sama-sama nikmati. Kalau terbatas, yang penting acaranya jalan dan doanya sampai. Warga itu sebenarnya nggak nuntut muluk-muluk, sederhana juga sudah senang asal kebersamaan tetap ada,” tutur Alung sambil tersenyum.
Meski dianggap praktis, penggunaan anggaran fleksibel juga menuntut kedisiplinan panitia. Harus ada skala prioritas yang jelas, misalnya mendahulukan konsumsi jamaah daripada dekorasi. Selain itu, pengeluaran tambahan ketika dana berlebih harus tetap diawasi agar tidak terkesan berlebihan dan boros.
“Kalau ada dana tambahan, gunakan secukupnya. Jangan sampai acara keagamaan berubah jadi ajang hura-hura,” pesan Ketua Panitia Muludan di salah satu desa sekitar Tasikmalaya.
Dengan kelebihan tersebut, metode anggaran fleksibel kini dianggap solusi aman dalam manajemen acara. Baik sederhana maupun meriah, acara tetap berjalan dengan lancar. Panitia hanya perlu menyiapkan dua skenario anggaran: versi minimalis dan versi maksimal.
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa besar biaya yang dikeluarkan, melainkan bagaimana pesan dan tujuan acara tersampaikan dengan baik kepada jamaah maupun masyarakat.
(Red)