Jakarta, kabar-9.com – Pernyataan Ustaz Abdul Somad (UAS) dalam sebuah ceramah yang menyebut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebagai sosok “yang tidak tahu agama” memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan. Potongan video ceramah tersebut viral di media sosial dan dinilai tidak mencerminkan sikap arif seorang pendakwah bergelar akademik tinggi.
Sebagai tokoh publik dan ulama, publik menilai semestinya UAS menyampaikan dakwah dengan bijak dan menyejukkan. Tuduhan kepada KDM dianggap tidak berdasar dan mencerminkan ketidakpahaman terhadap pendekatan budaya yang KDM terapkan dalam kehidupan beragama.
Pemimpin yang Mengharmonikan Budaya dan Agama
Dedi Mulyadi, yang kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat periode 2025–2030, dikenal sebagai figur pemimpin yang membumi dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Sunda. Pengalamannya sebagai Bupati Purwakarta selama dua periode memperlihatkan konsistensinya dalam mengangkat budaya lokal sebagai landasan pembangunan karakter masyarakat.
Sebagai seorang Muslim, KDM menanamkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin ke dalam kebijakan publik dan kehidupan sosial. Prinsip-prinsip Sunda seperti silih asah, silih asih, silih asuh diimplementasikan dalam program-program kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat. Ia aktif menyantuni anak yatim, menyekolahkan mereka ke pesantren, dan mendorong pemahaman Al-Qur’an di kalangan masyarakat.
Bagi Dedi Mulyadi, budaya dan agama bukanlah dua kutub yang berlawanan, melainkan dua unsur yang bisa saling melengkapi dan menguatkan.
Gaya Kepemimpinan Humanis dan Dekat dengan Rakyat
Dalam memimpin, KDM dikenal dengan pendekatan yang merakyat. Ia tak segan turun langsung ke pelosok desa, berdialog dengan warga, bahkan menginap di rumah-rumah rakyat miskin demi memahami persoalan mereka secara utuh. Melalui visi “Jabar Istimewa”, ia menempatkan budaya sebagai pilar penting di samping kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan ekonomi.
KDM membuktikan bahwa pembangunan modern dapat berjalan seiring dengan pelestarian tradisi. Ia menjadikan budaya sebagai kekuatan sosial untuk membangun jati diri masyarakat Jawa Barat.
Adab dalam Berdakwah: Tuntutan untuk Ulama dan Tokoh Publik
Pernyataan UAS yang dinilai menyinggung dan tidak beradab menjadi pengingat penting bagi para pendakwah dan tokoh publik. Ilmu tinggi tidak seharusnya melahirkan arogansi, melainkan harus dibarengi dengan adab dan kepekaan terhadap kultur setempat. Menuduh seseorang “tidak tahu agama” tanpa memahami konteks bisa memicu perpecahan sosial dan kegaduhan publik.
Dakwah yang efektif bukan hanya tentang isi, tapi juga tentang cara penyampaian yang bijak dan penuh hormat. Memahami masyarakat yang menjadi audiens, termasuk nilai-nilai dan tradisi mereka, adalah bagian penting dari keberhasilan menyampaikan pesan keagamaan.
Refleksi untuk Kita Semua
Kejadian ini menjadi pelajaran penting: setinggi apapun ilmu seseorang, adab harus selalu dikedepankan. Kritik, apalagi yang menyentuh aspek keyakinan, harus disampaikan dengan penuh tanggung jawab.
Dedi Mulyadi telah menunjukkan bahwa keharmonisan antara agama dan budaya bukan hanya wacana, tetapi bisa diwujudkan dalam tindakan nyata. Sosok seperti inilah yang dibutuhkan bangsa ini—pemimpin yang tidak hanya cerdas, tapi juga beradab dan mengakar pada nilai-nilai luhur masyarakat.
Catatan: Dr. Suriyanto Pd, SH., MH., M.Kn
Ketua Umum DPP Persatuan Wartawan Republik Indonesia