Tasikmalaya, – Di ujung Kampung Bongas, Desa Sukakarsa, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, berdiri Gunung Kalapa. Bagi sebagian orang, kawasan ini mungkin hanya tampak sebagai perbukitan biasa.
Namun bagi masyarakat setempat, Gunung Kalapa adalah bagian dari sejarah yang hidup. Di tempat inilah jejak para leluhur, kisah pengungsian saat letusan Gunung Galunggung, serta tradisi lisan masyarakat terus diwariskan hingga sekarang.
Kini, ketika perubahan bentang alam memunculkan kekhawatiran terhadap potensi longsor, warga merasa bukan hanya lereng yang terancam. Mereka juga khawatir sejarah, budaya, dan kenangan yang tersimpan di Gunung Kalapa perlahan ikut terkikis.
Sejarah yang Hidup dari Tutur Para Sesepuh
Tidak semua sejarah ditulis di atas kertas. Ada sejarah yang hidup melalui cerita para orang tua dan para sesepuh yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Begitulah masyarakat Kampung Bongas mengenal Gunung Kalapa. Cerita-cerita tentang kawasan ini tetap hidup meski tidak banyak tercatat dalam dokumen sejarah.
Menurut tradisi lisan masyarakat, Gunung Kalapa telah lama dihormati sebagai kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Cerita itu terus dijaga sebagai bagian dari identitas Desa Sukakarsa.
Kisah Eyang Jongrang
Menurut penuturan sejumlah sesepuh Kampung Bongas, di antaranya Mak Otim, Mak Oning, Iyat, dan Ruhiat, di lereng Gunung Kalapa terdapat sebuah makam yang oleh sebagian masyarakat dipercaya sebagai makam Eyang Jongrang.
Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun, Eyang Jongrang digambarkan sebagai sosok bertubuh tinggi dan kurus. Sejumlah warga terdahulu bahkan mengaku pernah melihat sosok tersebut ketika melintasi kawasan Gunung Kalapa.
Para sesepuh menegaskan bahwa cerita itu bukan untuk menakut-nakuti masyarakat. Kisah tersebut justru mengajarkan agar setiap orang menjaga sopan santun, menghormati alam, dan tidak merusak kawasan yang diwariskan para leluhur.
Jalan Menuju Gunung Ranji
Gunung Kalapa memiliki hubungan erat dengan Gunung Ranji. Sejak dahulu, masyarakat yang hendak menuju Gunung Ranji akan melewati sisi lereng Gunung Kalapa.
Di Gunung Ranji dimakamkan Eyang Asmarudin, tokoh yang dihormati masyarakat. Berdasarkan penuturan warga, beliau dikenal sebagai sosok yang pernah mengurus tempat peristirahatan para leluhur.
Karena itu, perjalanan menuju Gunung Ranji bukan hanya perjalanan fisik. Bagi masyarakat, jalur tersebut juga menjadi perjalanan untuk mengenang sejarah dan menghormati para pendahulu.
Tempat Peristirahatan Keluarga
Selain memiliki nilai sejarah budaya, Gunung Kalapa juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sebagian keluarga pemilik tanah di kawasan tersebut.
Hingga kini masih terdapat makam-makam keluarga yang terus diziarahi oleh ahli waris. Mereka datang untuk mendoakan para pendahulu sekaligus menjaga hubungan batin dengan tanah warisan keluarganya.
Bagi mereka, Gunung Kalapa bukan sekadar sebidang tanah. Kawasan ini adalah bagian dari sejarah keluarga yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Tempat Berlindung Saat Galunggung Meletus
Gunung Kalapa juga dikenang sebagai salah satu tempat pengungsian ketika Gunung Galunggung meletus. Cerita ini diwariskan oleh warga yang mengalami langsung maupun melalui penuturan orang tua mereka.
Saat itu, langit menghitam oleh abu vulkanik. Rumah, sawah, dan ladang ditinggalkan demi menyelamatkan nyawa.
Di bawah rindangnya pepohonan Gunung Kalapa, masyarakat bertahan hidup dalam segala keterbatasan. Mereka berbagi makanan, saling menguatkan, dan terus memanjatkan doa agar bencana segera berlalu.
Masih menurut cerita warga, malam-malam di pengungsian dipenuhi tangisan anak-anak dan doa para ibu. Ada ayah yang rela menahan lapar demi keluarganya, ada nenek yang terus berzikir, dan ada anak kecil yang bertanya apakah rumah mereka masih ada.
Pertanyaan itu, menurut para sesepuh, menjadi kenangan yang tak pernah hilang dari ingatan masyarakat yang pernah melewati masa-masa sulit tersebut.
Warisan yang Perlu Dijaga
Kini, perubahan bentang alam di Gunung Kalapa kembali menjadi perhatian masyarakat. Kekhawatiran terhadap potensi longsor bukan hanya menyangkut persoalan lingkungan.
Warga juga khawatir jejak sejarah, makam keluarga, jalur menuju Gunung Ranji, serta tradisi lisan tentang Gunung Kalapa perlahan menghilang bersama perubahan zaman.
Bagi masyarakat Kampung Bongas, Gunung Kalapa bukan sekadar gunung. Ia adalah ruang yang menyimpan sejarah, tempat berlindung saat bencana, tempat beristirahatnya para leluhur, dan bagian dari identitas kampung yang patut dijaga.
Sejarah tidak selalu ditulis dalam buku. Ada sejarah yang hidup melalui langkah para peziarah, doa-doa yang dipanjatkan di makam leluhur, serta cerita para sesepuh yang terus diwariskan kepada anak cucu.
Selama cerita itu masih dikenang dan diwariskan, Gunung Kalapa akan tetap hidup sebagai bagian dari jati diri masyarakat Kampung Bongas dan Desa Sukakarsa.
Catatan Redaksi: Artikel ini memuat sejarah lokal dan tradisi lisan masyarakat Kampung Bongas berdasarkan penuturan sejumlah sesepuh, di antaranya Mak Otim, Mak Oning, Iyat, dan Ruhiat. Bagian mengenai Eyang Jongrang disajikan sebagai warisan budaya berupa tradisi lisan masyarakat, sedangkan informasi mengenai letusan Gunung Galunggung dan kondisi kawasan merujuk pada sejarah yang dikenal oleh masyarakat setempat.
(Harun Alby)