Ketika Sejarah Diobrak-Abrik, Kami Tak Akan Diam

Artikel Oleh: Pemikir

Di kampung ini, kami mungkin tak punya gelar, tak punya jabatan, tak punya akses ke layar kaca atau ruang-ruang rapat ber-AC. Tapi kami punya sesuatu yang tak bisa dibeli, tak bisa dipalsukan, dan tak bisa dihapus dengan tinta kekuasaan: INGATAN

Kami tumbuh dari cerita yang diceritakan di bawah lampu teplok, dari suara serak kakek yang menyebut nama-nama pahlawan kampung yang tak pernah masuk buku pelajaran. Kami diwarisi luka, bukan sekadar narasi. Dan di kampung ini, sejarah bukan pelajaran hafalan—ia adalah DENYUT NADI KAMI.

Bacaan Lainnya

Aku sudah menjalankan tugasku sebagai seorang anak kampung yang belum lupa asal-usulnya.
Aku membaca. Aku mendengar. Aku mengingat.
Dan yang terpenting: aku BERSUARA.

Sementara kau—yang memilih berpaling, memilih tenang dalam ketidaktahuan, memilih nyaman dalam kebutaan—
Kelak anak cucumu akan meludah pada namamu.
Karena pengecut yang diam ketika kebenaran diinjak-injak, hanya akan mewariskan aib, bukan kehormatan.

Kini, ketika sejarah mulai dipelintir, ketika yang berjuang disebut pembangkang dan yang menjajah disebut mitra, kami tak bisa diam. Karena diam adalah pengkhianatan terhadap darah yang tumpah. Karena diam adalah izin atas pemalsuan yang membunuh jati diri kami pelan-pelan.

Kini, ketika sejarah mulai dipelintir, ketika yang berjuang disebut pembangkang dan yang menjajah disebut mitra, kami tak bisa diam. Karena

“diam adalah pengkhianatan terhadap darah yang tumpah. Karena diam adalah izin atas pemalsuan yang membunuh jati diri kami pelan-pelan.

Kami, orang kampung, mungkin tak didengar. Tapi kami masih punya lidah untuk menyebut nama-nama yang hendak mereka kubur:
Haji Hasan yang dibuang ke Digul.
Abah Somad yang disiksa karena menyembunyikan pejuang.
Mak Iyah yang menggali kuburan suaminya sendiri karena dituduh simpatisan.

Itu bukan mitos. Itu bukan dongeng.
Itu kenyataan yang pernah bernapas di depan mata kami.

Dan sekarang, sejarah mereka hendak dihapus. Dianggap tidak penting. Diganti dengan versi yang lebih ramah di televisi.
Mereka ingin kita lupa.
Mereka ingin kita bungkam.

Tapi kami tidak bisa.

Kami masih percaya pada ajaran karuhun kami:
Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh.
Kami saling mengingatkan, saling menyayangi, saling menjaga warisan.
Termasuk warisan luka, agar tak diulangi.

Kita pernah punya Ki Hadjar Dewantara yang memperingatkan:
“Bangsa yang melupakan sejarahnya, akan kehilangan masa depannya.”
Kita punya Pramoedya yang menulis dengan darah:
“Orang yang tidak tahu asal-usulnya lebih hina dari binatang.”

Dan lihatlah hari ini: kata-kata mereka menjadi nyata.
Sejarah dicabik. Kebenaran dikaburkan.
Pelakunya? Mereka yang berdasi.
Korban pertamanya? Kami.
Tapi yang paling terluka nanti adalah anak-anak kita.

Aku sudah menunaikan tugasku: membaca luka, menjaga jejak, menulis peringatan.
Sementara kau memilih diam.
Tapi ingat: satu saat nanti, mulut keturunanmu akan bertanya—
Dan kau takkan bisa menjawab.

Karena sejarah bukan milik pejabat. Bukan milik gedung-gedung tinggi.
Sejarah adalah milik rakyat.
Milik ibu-ibu yang menyuapi anaknya sambil bercerita.
Milik bapak-bapak yang menanam padi sambil mengenang siapa yang pernah gugur di ladang itu.

Dan di kampung ini, sejarah adalah harga diri.
Jika mereka ingin menjualnya, silakan.
Tapi kami, tidak.
Kami akan berdiri.
Kami akan bersuara.
Dan kami akan melawan—dengan apa pun yang kami punya:
Dengan kata.
Dengan ingatan.
Dengan air mata.

Dan untuk kalian—yang memilih bungkam demi tetap nyaman:
Teruslah menunduk saat kebohongan berjalan di atas pundak kalian.
Teruslah menyalakan televisi dan menertawakan komedi murahan,
sementara warisan kita dibakar pelan-pelan.

Silakan terus hidup nyaman di bawah atap palsu dari kebodohan yang kalian pelihara sendiri.
Silakan terus berpura-pura tidak tahu, hanya agar tidak perlu peduli.
Tapi jangan salahkan siapa pun saat nanti anak-anak kalian tumbuh tanpa akar, tanpa identitas,
Dan saat mereka bertanya,
“Kenapa kau diam saat warisan kita dirampas?”
Jangan salahkan siapa pun saat mereka malu memanggilmu kakek atau nenek.

Kalian tidak hanya menutup mata dan telinga.
Kalian juga sedang menutup jalan pulang untuk generasi kalian sendiri.

Karena pada akhirnya, bukan hanya penguasa yang akan dikenang dalam catatan sejarah—
Tapi juga kalian yang memilih tidak peduli.
Dan sejarah tak pernah ramah pada mereka yang membisu demi kenyamanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *