Viral dan Kreatif: Begini Potret Kehidupan Para Pecinta TikTok di Era Digital

Sesi Sholawat Virtual Bareng, Para Muslimah Tampil dalam Unjuk Kebolehan Religius

Jakarta, kabar-9.com– Kehidupan para pengguna TikTok kini menjadi fenomena sosial yang tak bisa diabaikan. Dari sekadar hiburan ringan hingga menjadi jalan karier, platform video pendek ini telah mengubah cara generasi muda mengekspresikan diri, meraih penghasilan, hingga membangun komunitas. 9 Juli 2025

Di berbagai kota hingga pelosok desa, anak-anak muda bahkan orang dewasa menjadikan TikTok sebagai bagian dari rutinitas harian. Mereka membuat beragam konten seperti lipsync, tantangan menari, vlog keseharian, edukasi singkat, hingga konten religius seperti lantunan sholawat dan ayat suci Al-Qur’an.

“Awalnya cuma iseng,” ujar Fani (21), seorang konten kreator asal Surabaya.

Bacaan Lainnya

“Tapi sekarang bisa dapat endorse tiap minggu. TikTok bisa jadi ladang rezeki kalau konsisten dan kreatif.”

Banyak kreator justru memilih fokus pada konten islami. Lantunan sholawat, bacaan murottal, dan dakwah pendek kini menjamur di lini masa. Tak sedikit santri, ustazah muda, hingga remaja masjid ikut aktif menyebarkan nilai-nilai kebaikan melalui akun mereka.

Fenomena yang kini tengah viral adalah siaran langsung sholawat bersama. Dalam sesi ini, para kreator bergabung dalam satu ruang virtual yang dipandu oleh seorang host. Secara bergiliran, mereka menampilkan unjuk kebolehan—melantunkan sholawat, membacakan doa, bersyair, atau memainkan alat musik islami seperti rebana. Sesi berlangsung penuh semangat, namun tetap khusyuk.

“Sholawat bareng di live room itu bikin hati adem,” ungkap Azzam, salah satu host asal Bandung.

“Ada yang ngaji, ada yang bawa rebana, ada juga yang bershalawat bareng keluarga. Kita saling memberi giliran dan menghargai kebolehan masing-masing.”

Suasana penuh kekeluargaan dalam siaran langsung itu kerap memunculkan momen haru. Banyak penonton mengaku terhibur, sekaligus tersentuh. Beberapa ruang siaran bahkan rutin mengadakan sesi sholawat bersama setiap malam Jumat, dengan ratusan penonton dari berbagai daerah.

Fenomena ini turut mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi digital. Dulu, konten kreator kerap dianggap tidak jelas arah masa depannya. Kini, mereka menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital, menghasilkan pendapatan dari kerja sama merek, siaran berbayar, hingga program afiliasi.

Namun, di balik kilau popularitas, tidak sedikit tantangan yang mereka hadapi. Tekanan untuk selalu tampil, komentar negatif dari warganet, serta perubahan algoritma kerap menjadi sumber stres. Beberapa kreator bahkan mengaku mengalami kelelahan digital karena merasa harus terus aktif dan kreatif setiap hari.

Menurut Prof. Dr. Ahmad Suryana, pakar komunikasi digital dari Universitas Islam Nusantara, fenomena ini adalah cermin bahwa ruang digital tidak lagi terpisah dari ruang sosial dan spiritual.

“TikTok bukan hanya panggung hiburan, tapi juga arena dakwah modern. Namun, para kreator perlu menjaga etika digital, konsistensi nilai, dan akurasi dalam menyampaikan pesan agar tidak terjebak dalam tren yang sekadar viral tapi miskin makna,” ujar Prof. Ahmad.

Sementara itu, Ustad H. Fathurrahman, Lc., menyambut positif munculnya konten-konten sholawat dan mengaji di TikTok. Menurutnya, dakwah digital harus dirangkul, bukan ditinggalkan.

“Selama niatnya lillahi ta’ala dan tidak melanggar syariat, bershalawat atau mengaji lewat TikTok itu sangat baik. Justru ini media dakwah kekinian. Yang penting, jangan lupakan adab, dan jangan jadikan panggung untuk riya,” tuturnya.

“Yang penting jangan lupa jadi diri sendiri,” ujar Danu, konten kreator motivasi yang kerap membagikan kisah inspiratif. “Kalau tujuannya berbagi, pasti ada yang merasa terbantu.”

TikTok kini bukan lagi sekadar aplikasi hiburan. Ia telah berkembang menjadi ruang terbuka bagi generasi digital untuk berkarya, berbagi nilai, dan menyebarkan pesan spiritual secara kreatif. Melalui lantunan sholawat, sesi mengaji, dan unjuk kebolehan dalam ruang siaran bersama, semangat kolaborasi dan dakwah digital kian menguat di tengah era serba daring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *