Tasikmalaya, kabar-9.com — Ribuan warga memadati pelataran Masjid Kampung Cihonje, Desa Sukakarsa, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, pada Sabtu malam (19/7/2025) dalam malam puncak perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriyah.
Suasana religi dan semarak terasa sejak awal acara yang dimeriahkan dengan penampilan seni musik tradisional dan rebana. Lantunan syair-syair islami dan selawat menggema dari panggung, disambut tepuk tangan meriah penonton
Acara dibuka dengan penampilan seni musik tradisional grup lokal yang membawakan syair-syair islami. Suasana religius dan semarak terasa dari lantunan selawat yang menggema, disambut tepuk tangan penonton sebagai bentuk apresiasi.

Dalam lomba qosidah yang menjadi sorotan utama, Grup GPRS (Generasi Pemuda Remaja Syibyan) berhasil meraih Juara 1 di kategori remaja, sementara Asshibyan meraih Juara 1 untuk kategori dewasa. Kedua grup ini tampil energik dan penuh penghayatan, memikat para juri dan penonton.

Puluhan grup qosidah dari kalangan remaja dan ibu-ibu majelis taklim tampil kompak dengan kostum seragam. Penampilan mereka memikat dan menyentuh hati, menunjukkan bahwa syiar Islam tetap hidup dan dicintai masyarakat.

Dalam sambutannya, Ketua MUI Desa Sukakarsa, Dr. H. Lukman Hakim, M.Si., mengajak warga untuk menjadikan tahun baru hijriyah sebagai momentum introspeksi dan peningkatan ketakwaan.

“Alhamdulillah, pelaksanaan Muharram di Desa Sukakarsa berjalan lancar, penuh rasa syukur dan antusiasme warga, terutama saat penutupan dan pembagian hadiah. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat terus meningkatkan kepribadian dan spiritualitas umat,” ujarnya.
“Insya Allah, tahun depan acara ini akan digilir ke wilayah Kedusunan Bongas agar kebersamaan ini dapat dirasakan lebih merata.”
Kepala Desa Sukakarsa, Elang Suherlan Beserta Ibu kepala desa turut hadir dan memberikan apresiasi penuh. Ia menyatakan kebanggaannya atas semangat kebersamaan warga dan memberikan dukungan dana pribadi untuk mendukung terselenggaranya acara tersebut sebagai bentuk komitmen terhadap syiar Islam dan pelestarian budaya lokal.
“Ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah bentuk pendidikan moral yang memperkuat kebersamaan lintas usia dan kalangan,” katanya.

Sesi pembagian doorprize menjadi bagian yang paling menghibur. Ketua Pelaksana, Drs. Undang Kuswara, bahkan turun langsung dari atas panggung dan berbaur ke tengah-tengah kerumunan warga untuk mencari calon penerima tiket doorprize, menciptakan keakraban dan keceriaan tersendiri di antara penonton.
Salah satu momen lucu terjadi ketika panitia melempar pertanyaan sederhana kepada peserta undian:
“Siapakah nama Kepala Desa Sukakarsa?”
Seorang ibu rumah tangga yang mendapat giliran menjawab dengan polos:
“Aduh… saya mah nggak tahu,“ katanya sambil tersipu.
Jawaban itu langsung disambut gelak tawa para hadirin. Kejujurannya yang spontan menjadi hiburan tersendiri malam itu.
Panitia pun menanggapi dengan santai:
“Iya, bu… jujur, ya. Luar biasa. Jujur itu kunci!”
Selain lomba qosidah, panitia juga mengumumkan pemenang berbagai lomba lainnya yang telah berlangsung sebelumnya sebagai bagian dari rangkaian Muharram. Momen ini menambah semangat peserta dan memperkuat ikatan sosial warga.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh ulama kampung. Doa dipanjatkan agar tahun baru Islam ini menjadi awal kehidupan yang lebih religius, harmonis, dan berkarakter kuat.
Dengan sinergi antara seni, budaya, dan partisipasi aktif warga, Desa Sukakarsa membuktikan bahwa tradisi Islam dapat tumbuh subur di tengah arus perubahan zaman.