Tasikmalaya, Kabar-9.com – Memasuki fase awal pekan kedua bulan suci Ramadhan 1447 H, denyut nadi ekonomi kerakyatan di Kabupaten Tasikmalaya kian terasa nyata. Salah satu titik yang kini menjadi pusat perhatian adalah pertigaan Jalan Gunungkicau, Desa Sukakarsa, Kecamatan Sukarame. Kawasan strategis ini telah bertransformasi menjadi pusat perburuan takjil ikonik yang mempertemukan para pelaku UMKM lokal dengan warga yang antusias menyongsong waktu berbuka.
Bazar dadakan atau yang akrab disebut Bazar Ramadhan ini muncul khusus selama bulan suci, bukan sekadar sebagai tempat transaksi jual-beli. Kehadirannya telah menjelma menjadi magnet sosial sekaligus ruang silaturahmi bagi warga sekitar. Berdasarkan pantauan mendalam jurnalis Kabar-9.com pada Jumat (27/02), deretan tenda portabel dan payung warna-warni tertata rapi di sepanjang bahu jalan, menyajikan aneka kuliner mulai dari kudapan tradisional yang otentik hingga minuman segar kekinian.
Di balik kemeriahan dan kepulan asap bakaran khas takjil, terdapat sistem pengelolaan mandiri berbasis swadaya masyarakat yang patut diapresiasi. Pengelolaan area bazar dadakan ini dilakukan secara kolektif oleh warga setempat guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan kondusif dan tertib.
Yosep, seorang personel keamanan bazar sekaligus tokoh pemuda dari Cibulakan, memaparkan bahwa keberlangsungan bazar ini didukung oleh iuran harian yang sangat terjangkau bagi para pedagang.
“Kami telah membangun kesepakatan bersama. Setiap pedagang hanya dikenakan iuran sebesar Rp3.000 per hari. Dana ini murni dialokasikan untuk biaya operasional lapangan, pemeliharaan area, dan menjaga kebersihan jalan agar tetap nyaman bagi semua pihak,” ujar Yosep saat diwawancarai khusus oleh Kabar-9.com.
Hal yang paling inspiratif adalah komitmen pengelola terhadap integritas dana tersebut. Yosep menegaskan bahwa seluruh uang yang terkumpul dikelola dengan prinsip kejujuran dan tidak akan digunakan secara sepihak selama masa bazar berlangsung.
“Amanah ini kami jaga betul. Nantinya, setelah seluruh rangkaian Bazar Ramadhan ini berakhir, dana yang terkumpul akan dibuka secara transparan di hadapan para Ketua RT dan seluruh anggota pengelola. Kami ingin setiap rupiah yang dikeluarkan pedagang dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka dan membawa keberkahan bagi desa,” tambahnya dengan nada tegas.
Salah satu poin menonjol yang membedakan Bazar Gunungkicau dengan pusat keramaian lainnya adalah kenyamanan akses bagi pengunjung. Di tengah maraknya fenomena pungutan parkir liar, pengelola Bazar Sukakarsa justru mengambil langkah progresif dengan menggratiskan biaya parkir.
“Kami sepakat, untuk pengunjung tidak ada iuran parkir. Ini adalah bentuk dedikasi kami agar masyarakat yang datang merasa dihargai dan tidak terbebani biaya tambahan. Tujuan utama kami adalah menghidupkan ekonomi desa dan membantu pedagang, bukan mengambil keuntungan dari lahan parkir,” jelas Yosep.
Eksistensi bazar dadakan ini diakui sangat bergantung pada faktor cuaca. Yosep mencatat, terdapat sekitar 18 hingga 25 lapak pedagang tetap yang mengisi slot di kawasan pertigaan tersebut. Namun, angka ini bersifat dinamis mengikuti kondisi alam.
“Jika cuaca cerah, partisipasi pedagang dan pembeli sangat maksimal. Selain pedagang tetap di lapak, kami juga melihat banyak pedagang bermotor yang datang silih berganti. Namun, bagi pedagang bermotor ini, kami tidak memasukkan mereka dalam hitungan tetap iuran karena mobilitas mereka yang cukup tinggi,” ungkapnya.
Meski volume kendaraan dan aktivitas pejalan kaki meningkat drastis menjelang pukul 17.00 WIB, arus lalu lintas di pertigaan Gunungkicau terpantau padat namun tetap mengalir. Kehadiran tim keamanan lokal seperti Yosep dan rekan-rekannya terbukti krusial dalam mengatur posisi kendaraan agar tidak memakan badan jalan utama, sehingga akses transportasi publik tetap terjaga dengan baik.
Fenomena Bazar Ramadhan di Desa Sukakarsa ini menjadi potret nyata bagaimana ekonomi mikro dapat tumbuh subur melalui manajemen yang jujur, transparan, dan mengedepankan kearifan lokal. Sebuah model pengelolaan pasar musiman yang patut dicontoh oleh wilayah lain.
Laporan: Redaksi Kabar-9.com
Editor: Divisi Pemberitaan Daerah