Tasikmalaya, kabar-9.com – Sebuah terobosan besar dalam percepatan penurunan angka stunting resmi diperkenalkan di Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (12/02/2026). Inovasi bertajuk PESTA TELUR (Program Ekonomi dan Stunting Terpadu melalui Budidaya Ayam Petelur) ini mengintegrasikan peternakan ayam, budidaya maggot, dan kolam ikan dalam satu sistem Rak Vertikal Terpadu.


Siklus Mandiri: Solusi Lahan Sempit & Efisiensi Biaya
Sistem ini dirancang sangat efisien untuk diterapkan di lingkungan pedesaan maupun area dengan lahan terbatas. Dengan model bertingkat, sistem ini menciptakan siklus tertutup yang revolusioner:
-
Bagian Atas: Diisi 15 ekor ayam petelur sebagai produsen protein harian.
-
Bagian Tengah: Budidaya Maggot (BSF) yang mengolah kotoran ayam dan limbah dapur secara higienis.
-
Bagian Bawah: Kolam Ikan yang memanfaatkan maggot sebagai pakan tinggi protein.
Mengenai keunggulan teknis ini, Ibu Kabid PPKB memberikan penjelasan mendalam: “Kuncinya ada pada siklus tertutup. Kotoran ayam diolah oleh maggot, kemudian maggot tersebut menjadi pakan tinggi protein untuk ikan dan tambahan pakan ayam. Ini menekan biaya operasional secara signifikan,” ujar Kepala Bidang PPKB, Yanti Permayanti, SKM., MM.
Gerakan “Pesta Telur”: Gizi bagi Balita, Mandiri bagi Keluarga
Target utama program ini adalah anak-anak yang terindikasi stunting. Melalui kepemilikan aset produktif ini, keluarga diharapkan mampu menyelenggarakan “Pesta Telur” setiap hari sebagai sumber protein utama balita.

Dampak Ganda bagi Keluarga:
-
Intervensi Gizi: Menjamin ketersediaan minimal 2 butir telur segar sehari sebagai asupan wajib balita untuk mendukung kecerdasan.
-
Kemandirian Ekonomi: Sisa produksi telur, maggot, maupun hasil kolam ikan dapat dijual menjadi tambahan pendapatan keluarga (Ekonomi Sirkular).
Sinergi Relawan dan Komitmen Masa Depan
Dalam implementasinya di Kampung Puncak, Desa Pusparaja, program ini melibatkan Relawan Institut Alam Rimba sebagai pendamping teknis. Mereka bertugas memastikan transfer ilmu budidaya berjalan lancar agar keluarga penerima manfaat bisa menjadi ahli secara mandiri.
Hingga Bulan Penimbangan Agustus mendatang, perkembangan fisik anak akan dipantau secara ketat. Keberhasilan proyek percontohan ini diharapkan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya untuk direplikasi secara luas sebagai standar nasional penanganan stunting berbasis keluarga.
Menuju Percontohan Nasional
Inovasi dari pelosok Cigalontang ini membuktikan bahwa penanganan stunting dapat dituntaskan melalui kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Dengan sinergi yang tepat, diharapkan angka stunting di Tasikmalaya tidak hanya turun secara statistik, tetapi benar-benar tuntas hingga ke akar-akarnya.
“Stimulan ini adalah benih, relawan adalah penyiramnya, dan keluarga adalah tanahnya. Kerjasama tulus akan membuahkan kesehatan bagi balita dan kesejahteraan bagi dapur kita,” pungkas narasi dalam pertemuan tersebut.