Tasikmalaya, kabar-9.com – Suasana malam Ahad, 4 Oktober 2025, terasa berbeda di Kampung Bongas, Desa Sukakarsa, Kecamatan Sukarame. Ratusan jamaah dari berbagai kalangan memenuhi halaman Madrasah Sumur Picung. Lampu hias dan lantunan shalawat menggema, menandai dimulainya Tabligh Akbar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H, sekaligus pengajian rutin bulanan.
Acara dibuka dengan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa sebagai bentuk kepedulian sosial dan keteladanan terhadap akhlak Rasulullah SAW yang penuh kasih. Tangis haru dan senyum bahagia menghiasi wajah penerima santunan, menciptakan suasana hangat di tengah masyarakat.
Usai santunan, acara dilanjutkan dengan Tawassul yang dipimpin oleh Kyai Dudung Abdul Latif, sesepuh Madrasah Sumur Picung. Lantunan doa bersama menggema, diiringi kekhusyukan jamaah yang memohon keberkahan dan keselamatan umat Islam.
Selanjutnya, pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Al-Ustaz Muhammad Arif dari Pondok Pesantren Al-Mu’min semakin menambah kekhidmatan acara. Suara merdu sang qori menggetarkan hati hadirin dan menghadirkan suasana religius yang mendalam.
Pada puncak acara, tausiah disampaikan oleh Ustaz Badruzzaman, yang menekankan pentingnya menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan sepanjang zaman — bukan hanya dalam peringatan Maulid, tetapi juga dalam setiap perilaku sehari-hari.
“Pahala dan surga datang dari ketaatan kepada Allah. Untuk menerima apa pun dari-Nya, hal itu menjadi jembatan dalam kehidupan. Menyambung kebahagiaan, memberi kesempatan. Dengan jalan ini, kita dapat mendekatkan diri kepada Allah. Semoga demikian yang terjadi,” ujar beliau dalam tausiah.
Beliau juga menyampaikan nasihat penuh makna tentang hakikat kebahagiaan sejati:
“Mudah-mudahan kita semua bisa hadir dan berkumpul di tempat penuh berkah ini. Selama hidup di dunia, manusia sering membicarakan kebutuhan, kebahagiaan, atau urusan rumah tangga. Namun kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari harta maupun keuntungan duniawi. Ada yang untung, ada yang rugi, ada yang bahagia, dan ada yang diuji — semua bagian dari perjalanan hidup. Yang penting, kita jalani dengan ikhlas dan ridho, agar terhindar dari kesengsaraan dan diringankan langkah menuju keberuntungan yang diridhoi Allah.”
Dalam kesempatan itu, beliau juga menyinggung pentingnya mengendalikan hawa nafsu dan menjadikan iman sebagai cahaya kehidupan:
“Kebahagiaan itu bukan karena banyaknya harta, jabatan, atau rupa yang elok. Tapi karena hati yang dekat kepada Allah. Bila ilmu dipimpin oleh hawa nafsu, maka kebenaran bisa tampak salah. Namun bila nafsu ditundukkan oleh iman, hidup menjadi cahaya. Ilmu yang benar tidak boleh dipakai untuk menuruti nafsu, karena dari situlah manusia bisa tersesat. Maka kendalikan hawa, jinakkan nafsu, dan kuatkan iman.”
Dalam lanjutan tausiahnya, Ustaz Badruzzaman juga menguraikan Tingkatan Agama (Tatsqif Ad-Din / Maratib ad-Din) sebagai refleksi pembelajaran keagamaan yang sangat penting dipahami oleh setiap umat Islam.
“Dalam Islam, ada tiga tingkatan dalam beragama, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Ketiganya adalah jalan untuk menyempurnakan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” jelasnya.
1. Islam — Tingkatan Pertama (Lahiriah)
Berhubungan dengan amal perbuatan yang tampak.
Dasarnya adalah Rukun Islam (5 perkara):
Syahadat, Salat, Zakat, Puasa, dan Haji.
Makna: Orang yang menjalankan lima hal ini disebut Muslim.
2. Iman — Tingkatan Kedua (Batiniah)
Berhubungan dengan keyakinan dalam hati.
Dasarnya adalah Rukun Iman (6 perkara):
Percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, serta Qada dan Qadar.
Makna: Orang yang beriman dengan sungguh-sungguh disebut Mukmin.
3. Ihsan — Tingkatan Tertinggi (Spiritual)
Berhubungan dengan keikhlasan dan kesadaran batin dalam beribadah.
Berdasarkan sabda Rasulullah saw dalam Hadis Jibril:
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
(HR. Muslim)
Makna: Orang yang mencapai ihsan disebut Muhsin.
Ustaz menegaskan bahwa ketiga tingkatan tersebut merupakan pondasi utama dalam membangun keimanan dan ketakwaan. Islam menjadi dasar amal, iman menjadi cahaya keyakinan, dan ihsan menjadi puncak penyempurnaan ibadah.
“Ketika Islam dijalankan dengan iman dan disertai ihsan, maka hidup akan terasa damai. Ibadah bukan sekadar kewajiban, tapi kebutuhan hati untuk selalu dekat dengan Allah,” tuturnya.
Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB dan berakhir menjelang tengah malam itu berlangsung khidmat dan penuh keberkahan. Panitia menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Bagi warga Kampung Bongas dan sekitarnya, kegiatan ini bukan sekadar pengajian rutin, tetapi momentum mempererat silaturahmi, menumbuhkan cinta Rasul, serta memperkokoh keimanan di tengah tantangan zaman.
Semoga peringatan Maulid Nabi ini menjadi sarana mempertebal keimanan, memperbanyak amal kebaikan, dan meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
(Red)